Antiklimaks Nyanyian Nazaruddin

JAKARTAHarapan masyarakat agar Muhammad Nazaruddin tetap bersuara lantang, mengungkapkan semua hal yang diketahuinya mengenai patgulipat proyek pemerintah yang dibiayai APBN tampaknya sia-sia.

Padahal, selama petualangannya sebagai buronan di Singapura, Vietnam, Kamboja, Spanyol, Dominika dan Kolombia, Nazaruddin terus menembakkan peluru ke sejumlah koleganya di Partai Demokrat maupun teman-temannya di Badan Anggaran DPR, Mahkamah Konstitusi dan termasuk Komisi Pemberantasan Korupsi.

Tuduhan itu disampaikan melalui berbagai macam sarana dari BlackBerry Messenger, telepon, sampai wawancara via Skype dan dimuat menjadi berita utama oleh sejumlah media di Jakarta selama berhari-hari.

Ocehan Nazaruddin selama di luar negeri membuat kalang kabut banyak orang. Bahkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sampai harus berpidato mempertanyakan berita pers yang hanya bersumber dari BlackBerry Messenger. Dia juga berkali-kali meminta agar Nazaruddin segera pulang menjelaskan semua hal kepada penegak hukum yakni Komisi Pemberantasan Korupsi.

Namun, harapan itu tinggal harapan. Nazaruddin yang galak dari luar negeri tiba-tiba tak berani buka mulut ketika berhadapan dengan penyidik KPK setelah sebelumnya dibekuk Interpol di Cartagena, Kolombia, pada 6 Agustus lalu, dan diboyong ke Tanah Air dengan pesawat carter Gulfstream. Bahkan, menatap kamera wartawan pun ia tak berani dan bicara dengan suara lembek.

“Saya minta pada Pak SBY jangan ganggu anak dan istri saya. Saya tidak akan ngomong apa-apa. Saya lupa semuanya. Saya tidak tahu apa-apa. Saya mengaku salah. Kalau perlu tidak perlu disidik, langsung divonis saja. Saya ditahan saja tidak masalah,” katanya ketika menjalani pemeriksan materi pertama di kantor KPK hari ini, Kamis (18/8/2011).

Tak berhenti di situ, Nazaruddin –entah atas anjuran siapa- juga menulis surat kepada Presiden Yudhoyono. “Saya mohon kepada Bapak agar segera memberikan hukuman penjara kepada saya tanpa perlu lagi mengikuti proses persidangan untuk membela hak-hak bagi saya. Saya rela dihukum penjara bertahun-tahun asalkan Bapak dapat berjanji Bapak akan memberikan ketenangan lahir dan batin bagi keluarga saya, khususnya bagi istri dan anak-anak saya,” katanya.

”Perlu saya jelaskan bahwa istri saya adalah benar-benar seorang ibu rumah tangga yang sama sekali tidak mengetahui apapun yang berhubungan dengan kepartaian. Saya juga berjanji saya tidak akan menceritakan apapun yang dapat merusak citra Partai Demokrat serta KPK, demi kelangsungan bangsa ini.”

Jika dirujuk ke belakang, sangat banyak tuduhan serius yang dialamatkan Nazaruddin kepada sejumlah orang. Pada hari Minggu, 3 Juli lalu, okezone menerima BBM dari Nazaruddin yang menuduh Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum serta Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng dan politikus Demokrat Angelina Sondakh menerima sogokan dari proyek Pusat Pendidikan, Pelatihan, dan Sekolah Olahraga Nasional di Hambalang.

Pada pekan berikutnya, Nazaruddin masih rajin memberikan pernyataan yang menyudutkan sejumlah orang kepada media massa baik cetak maupun elektronik. Kini, melihat sikap Nazaruddin yang berubah 180 derajat, publik pun bertanya-tanya, ada apa dengan Nazaruddin?

Jika benar akan memutuskan diam dan tak mengungkap hal-hal yang merugikan Demokrat kepada KPK, bisa jadi seluruh tuduhan Nazaruddin selama ini hanya omong kosong. Ibarat koboi, dia menembaki musuhnya dengan peluru hampa yang tak mematikan.

Di luar pengakuan Nazaruddin, publik kini menanti janji KPK untuk menuntaskan 35 kasus yang terkait dengan 155 perusahaan yang terafiliasi dengan Nazaruddin senilai Rp6,03 triliun. Mungkinkah dia bermain sendirian dalam proyek sangat besar itu?

Berikut beberapa tuduhan Nazaruddin

Anas Urbaningrum

Nazaruddin menuduh Anas menerima Rp7 miliar dari proyek wisma atlet di Palembang senilai Rp200 miliar serta Rp70 miliar dari proyek Hambalang senilai Rp1,2 triliun pada tahun 2010. Dalam wawancara dengan Metro TV, Nazaruddin juga mengungkapkan Anas menerima aliran dana hingga USD20 juta untuk pemenangan dalam kongres. Tapi, semua ini dibantah Anas bahwa dirinya sama sekali tak pernah menerima uang sepeserpun dari proyek Wisma Atlet SEA Games.

Andi Mallarangeng

Dalam wawancara via Skype dengan Iwan Piliang 22 Juli 2011, Nazaruddin menyebut Andi menerima uang Rp5 miliar yang diterima oleh Choel Mallarangeng dari proyek Hambalang.

I Wayan Koster dan Angelina Sondakh

Kepada Koran Tempo, Nazaruddin mengungkapkan, anggota Badan Anggaran dari PDI Perjuangan, I Wayan Koster, menerima duit Rp9 miliar dari proyek Hambalang. Uang itu diserahkan Sekretaris Jenderal Kementerian Pemuda dan Olahraga Wafid Muharam.

Uang itu sebelumnya diberikan oleh Paul pengusaha. Dari Paul ke I Wayan Koster dan Angelina Sondakh lalu diserahkan ke Wakil Ketua Badan Anggaran dari Demokrat Mirwan Amir. Dari Mirwan diserahkan ke pemimpin Badan Anggaran dan Ketua Fraksi Demokrat Jafar Hafsah.

Chandra M Hamzah

“November 2010, Chandra terima uang. Ada CCTV-nya. Chandra menerima uang proyek pengadaan baju hansip untuk pemilu. Kasusnya mau dinaikkan ke KPK. Ada seorang pengusaha yang memberi itu. Bukan saya yang berikan, pengusaha yang berikan. Ada Benny K Harman. Saya tidak percaya KPK.”

“Chandra terima suap dari kasus proyek baju hansip. Waktu itu kasus baju hansip mau diusut, Chandra terima itu.”

Ade Raharja

Nazaruddin mengatakan, ada kesepakatan antara Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum dengan Wakil Ketua KPK Chandra Hamzah dan Deputi Penindakan KPK Ade Raharja untuk mengisolasi pengusutan kasus wisma atlet SEA Games berhenti pada penetapan Nazaruddin sebagai tersangka. Imbalannya, Chandra dan Ade menjadi pimpinan KPK jilid berikutnya apabila tidak memproses Anas, Angelina Sondakh, dan Mirwan Amir.

Nazaruddin menyebut dirinya pernah bertemu Ade Raharja dan Johan Budi SP pada Januari 2010 yang juga dihadiri Wasekjen Demokrat Saan Mustopa. Ade kembali bertemu dengannya pada Juni 2010. Pada pertemuan kedua tersebut Ade ditemani penyidik KPK Roni Samtana.

Wakil Ketua KPK M Jasin belakangan juga menyebut pertemuan Nazar dengan koleganya yang lain yaitu Sekjen KPK Bambang Praptono Sunu dan juga Wakil Ketua KPK Haryono Umar. Dia juga meminta Ketua KPK Busyro Muqoddas diperiksa Komite Etik yang diketuai penasihat KPK Abdullah Hehamahua karena nama Busyro pernah disebut Nazaruddin di salah satu media.

Tuduhan kepada KPK

“Jika KPK bisa membuktikan ada aliran ke rekening saya, saya akan pulang. Bagaimana saya mau pulang, rekayasanya selalu dibuat. Saya mau tanya ke KPK, darimana KPK bisa buktikan saya terima dana. Itu hanya penjelasan dari orang yang direkayasa oleh seorang yang bernama Anas Urbaningrum. Semuanya direkayasa supaya saya dijadikan tersangka. Anas itu yang terima aliran dana dari proyek wisma atlet. Saya mau ke KPK, tapi KPK bohong semua. KPK itu permapok, saya tahu KPK itu perampok.”

Sekretaris Jenderal MK Janedjri M Gaffar

Janedjri mengaku pernah diberi uang sebesar 120 ribu dollar Singapura oleh Nazaruddin. Nazar bereaksi dengan menyebut kesaksian itu sebagai fitnah. Dia mengancam melaporkan Janedjri ke Mabes Polri.

Tapi, kini semua tuduhan Nazaruddin bak hilang ditelan bumi. Nazar berubah menjadi anak manis ketika KPK mulai mengusut kasus yang selalu dia celotehkan ketika di pelarian. Ini menjadi antiklimaks nyanyian Nazaruddin. (abe)