Momentum Krisis Harus Dimanfaatkan

JAKARTA, KOMPAS.com,BIMZnews.com – Ekonom Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan mengatakan, Indonesia harus mampu memanfaatkan momentum krisis yang terjadi di Amerika Serikat dan Eropa dengan mengalirkan arus dana masuk kepada sektor riil.        “Apa yang terjadi di AS, Eropa, dan Jepang membuat suku bunga tetap rendah dalam satu atau dua tahun mendatang, artinya ada dana yang menganggur tidak terserap sektor riil. Dana itu akan masuk ke negara seperti Indonesia,” ujarnya saat ditemui di Jakarta, Jumat (12/8/2011).

Ada dana yang menganggur tidak terserap sektor riil. Dana itu akan masuk ke negara seperti Indonesia

Fauzi menjelaskan, potensi Indonesia untuk kebanjiran dana dari negara-negara maju yang mengalami pelambatan ekonomi sangat besar, karena dana tersebut tidak terserap di sektor riil mereka.

Ia menambahkan, dana tersebut akan masuk kepada negara yang memiliki suku bunga tinggi, mata uang stabil dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dari AS, Eropa dan Jepang.

“Ada dua negara yang memenuhi syarat tersebut yaitu Indonesia dan Brasil. Masalahnya Brasil tidak suka hot money, dan mereka menerapkan pajak enam persen bagi investor yang mau membeli obligasi mereka. Alhasil dana bisa masuk ke Indonesia yang masih menganut rezim devisa bebas,” ujarnya.

Menurut dia, potensi Indonesia untuk meningkatkan investasi dan angka pertumbuhan ekonomi juga sangat besar, karena lembaga pemeringkat dalam 6-12 bulan bersiap memberikan level peringkat investasi (investment grade) dibandingkan AS dan Eropa yang terancam kembali mengalami penurunan rating.

“AS dan Eropa mengalami turun rating sedangkan Indonesia menanti naik. Tiga lembaga pemeringkat dalam 6-12 bulan bisa menaikkan investment outlook Indonesia menjadi naik dan otomatis investasi semakin banyak,” katanya.

Untuk itu, ia meminta agar arus dana dari negara maju dapat terserap oleh sektor riil dan jangan hanya masuk kepada instrumen obligasi karena dapat menimbulkan resiko baru, terutama dalam dua atau tiga tahun mendatang ketika AS sedang mengalami fase pemulihan. “Sektor riil harus menyerap dana-dana itu, jangan hanya di instrumen SBI, SUN dan saham karena bisa menimbulkan risiko baru,” katanya.

Fauzi memprediksi Indonesia dapat mencapai angka pertumbuhan 6,5 persen pada 2011 dan 7 persen pada tahun depan apabila dapat memanfaatkan momentum krisis global ini.

Sedangkan laba korporasi diprediksi meningkat 20 persen, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 4.400 pada akhir 2011 dan inflasi mencapai 5,5-6 persen dengan catatan tidak ada kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

“BI Rate dengan rendahnya inflasi, tetap dipertahankan 6,75 persen sampai akhir tahun dan mengingatkan bahwa suku bunga global rendah hingga dua tahun mendatang,” ujar Fauzi.

Kemudian, nilai tukar rupiah diprediksi akan terus mengalami penguatan karena arus modal yang terus menerus mengalir hingga mencapai Rp8.300 pada akhir tahun dan Rp 7.900 pada 2012.

“Dengan aliran modal besar serta kemungkinan rating upgrade menjadi ’investment grade’ maka akhir tahun bisa mencapai Rp 8.300 dan Rp 7.900 tahun depan,” ujar Fauzi.

Namun, sarana infrastruktur yang belum memadai di Indonesia bisa menjadi penghambat penyerapan modal asing tersebut  masuk ke dalam sektor riil dan memperlambat pertumbuhan sektor manufaktur.

“Pembangunan infrastruktur ada, tapi lamban dan tidak sesuai yang diharapkan. Masih ada masalah pembebasan lahan, kekhawatiran KPK terlibat, serta ketidakmampuan pemerintah daerah secara teknis untuk terlibat dalam membangun proyek,” ujar Fauzi.